Home » , » Mukjizat Syahadat Melalui Kajian Numerik Al-Qur'an

Mukjizat Syahadat Melalui Kajian Numerik Al-Qur'an

Fsqdaqaseroja - Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Semoga kita semua selalu mendapat Rahmat Alloh SWT. Amin. Tak henti-hentinya ucapkan syukur kepada-Nya atas apa yang telah diberikan kepada kita semua. Salah satunya adalah menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. 

Admin dalam kesempatan kali ini akan membagikan ulasan mengenai Mukjizat Syahadat Melalui Kajian Numerik Al-Qur'an. Semoga dalam kajian ini kita semua mendapat pesan-pesan yang selama ini masih dalam benak pikiran kita semua.

Mukjizat Dua Kalimat Syahadat

Syahadat Yaitu adalah satu keharusan untuk semua muslim untuk mengerti apa-apa yang terdapat dalam Rukun Iman serta Rukun Islam. Alhamdulillahi rabbil ’aalamiin, sudah begitu banyak beberapa ulama serta cendikiawan muslim yang mengemukakan mengenai beragam keutamaan dari sebagian rukun Islam. Umpamanya, keutamaan shalat, zakat, puasa serta hajji. Tetapi, mungkin saja masihlah sedikit yang mengulas atau mengemukakan mengenai keutamaan syahadat. Serta sebagai bentuk kepedulian serta sharing sesama muslim, kami dari pengkaji Al Qur’an lewat pendekatan numerik, juga menginginkan ikut berperan serta untuk mengemukakan sebagian pemahaman kami yang sedikit, dengan harapan kalau nyatanya begitu pendekatan numerik sebagai padanan pendekatan verbal yang telah lebih mengkhalayak, bisa memberi peran serta faedah untuk perubahan khasanah pengetahuan di kelompok ummat Islam.


1. RUKUN IMAN, ISLAM, DAN KA'BAH

Sebelumnya mengulas mengenai judul diatas, sebaiknya kita pelajari lebih dahulu ke 6 rukun Iman serta 5 rukun Islam. Titik tolaknya yaitu lewat penelaahan dari satu diantara ayat kauniyah terutama untuk ummat Islam yaitu Ka’bah. Telah keduanya sama di ketahui, bangunan itu didirikan oleh seseorang Ayah Tauhid, nabi Ibrahim as. Dengan cara nomer urut kenabian dari 25 nabi yang harus diimani, beliau yaitu nabi ke 6. Nyatanya nilai 6 ini, dengan cara segera mempunyai satu korelasi yang pasti dengan bangunan Ka’bah tersebut yang berupa kubus dengan jumlah 6 segi. Nilai inipun dengan cara segera tersambungsi dengan jumlah rukun Iman. Setelah itu, apabila kita kaitkan dengan systematika nomer urut surat, surat Ibrahim terdapat pada surat ke 14. Ke dua nilai pada 14 apabila dijumlahkan (1 + 4) yaitu 5. Tidakkah nilai inipun dengan cara segera tersambungsi dengan jumlah rukun Islam?.

2. MAKNA SIMBOLIK KA'BAH

Mari kita simak bersama sama tentang amati bangunan dari Ka'bah,

Contoh Bangunan Ka'bah


  • Satu-satunya ritual yang berhubungan/berhadapan secara langsung dengan Ka’bah adalah Thawaf (berputar mengelilingi Ka’bah).
  • Ada 4 sisi yang di kelilingi, yaitu sisi ke 1,2,3,4. Bila dijumlahkan adalah 1+2+3+4=10.
  • Berarti sisi bagian bawah Ka’bah adalah sisi ke 5 dan sisi bagian atas adalah sisi ke 6.
  • Coba kita urut secara terbalik, dari sisi atas (6), sisi bawah (5) lalu sisi yang di kelilingi/thawaf (10)
  • Substitusi nilai 6 kedalam abjad hijaiyah adalah abjad Ha (ح).
  • Substitusi nilai 5 kedalam abjad hijaiyah adalah abjad Jim (ج).
  • Substitusi nilai 10 kedalam abjad hijaiyah adalah abjad Ra (ر).
  • Ke 3 hasil subsitusi di atas digabungkan : Ha-Jim-Ra: atau dapat membentuk kata (حجر) : HIJR (batu). Bukankah Ka’bah bangunan terbuat dari batu?
  • Surat Hijr (Al Hijr) di Al Qur’an adalah surat ke 15, dengan jumlah 99 ayat (nilai 99 : Asma Ul Husna : simbolisasi dari sebuah kesempurnaan). Nilai 15 + 99 = 114 (jumlah surat dalam Al Qur’an).
  • Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kesempurnaan Iman dan Islam, haruslah berpedoman pada Al Qur’an (sebagai huda linaas, petunjuk bagi sekalian manusia)

Lihat Surat Al-Baqarah 150, Semakin jelaslah pesan yang diberikan.

“Dan dari mana pun engkau (Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu, agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, agar Aku Sempurnakan nikmat-Ku kepadamu, dan agar kamu mendapat petunjuk.”


Pastinya arti ayat diatas tidaklah berarti harfiah, lantaran bagaimana mungkin saja serta sangat sangat simpel apabila arti “dari mana saja engkau keluar” serta “di mana saja engkau ada hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram” dimaknai serta dikerjakan dengan cara fisik sesuai sama harfiahnya. Dapat dipikirkan apa yang bakal berlangsung apabila semuanya ummat muslim di semua dunia lakukan hal semacam ini seperti arti harfiah nya (semasing menghadapkan berwajah ke Masjidil Haram) dimana serta kapanpun! Begitu mustahil dikerjakan. Walau demikian, jika ayat itu dimaknai lebih mendalam, di mana simbolisasi Masjidil Haram (di mana ada Ka’bah di sana), serta dari uraian numerik diatas, diterangkan kalau Ka’bah yaitu satu simbolisasi dari Al Qur’an, jadi begitu terang maknanya, kalau dari tempat mana saja kita keluar serta dimana saja kita ada selalulah berdasar pada Al Qur’an.

3. RUKUN IMAN. RUKUN ISLAM, DAN AL-QUR'AN

1. Nilai 6 pada rukun Iman bila dideret hitungkan : 1+2+3+4+5+6=21
2. Nilai 5 pada rukun Iman bila dideret hitungkan : 1+2+3+4+5=15
3. Nilai 6 – 5 = 1
4. Nilai 6 x 5 = 30
5. Perhatikan Al Qur’an anda (dalam hal ini Al Qur’an Mushaf Ustmani Format 18 Baris), Nilai 1 dan 15, ternyata terkoneksi dengan Juz 1 berjumlah 15 Halaman sedangkan nilai 30 dan 21, terkoneksi dengan juz 30 berjumlah 21 halaman.
6. Juz 1 (juz awal/pembuka) dan juz 30 (juz akhir/penutup) menggambarkan bahwa Al Qur’an dari awal sampai dengan akhirnya adalah merupakan pedoman jelas untuk kita memahami tentang rukun Iman dan Islam.

7. Di antara juz 1 dan 30 terdapat 28 juz (juz 2 s.d. juz 29). Bila dikaitkan dengan Ka’bah dengan ritual Thawaf nya yaitu : 7 kali mengelilingi 4 sisi Ka’bah, berarti terdapat nilai 7 x 4 = 28 (jumlah juz di antara juz 1 dan 30).

8. Hal ini menggambarkan bahwa kandungan Al Qur’an adalah demikian dalam dan tingginya, perlu pembelajaran yang intens dan berulang-ulang (layaknya ritual Thawaf). Ritual Thawaf pun menggambarkan bahwa penelaahan kedalaman dan ketinggian Al Qur’an perlu dilihat, dikaji, dari berbagai sisi pandang. Termasuk memperhatikan dan memahami seluruh elemen yang terkandung di dalamnya : baik itu redaksi verbalnya, nomor suratnya, jumlah ayatnya, juz nya, simbol-simbol hurufnya, tanda ruku’ (‘ain) nya, halamannya, barisnya, dst.
9. Nilai numerik dari Ka’bah (ﻛﻌﺒﺔ ) : Kaf (ك)=22, ‘Ain (ع)=18, Ba (ب) =2, Ta Marbutah (ة) =32, berjumlah 74. Qs. 74 adalah Al Mudatsir (Yang Berkemul) dengan jumlah ayat 56.

10. Jelas sekali makna sistematika angkanya : Bahwa Ka’bah (simbol dari Al Qur’an) memiliki kandungan ilmu yang terkemul (tersembunyi/tersirat) di dalamnya. Nilai 56 (jumlah ayatnya) pun ternyata terkait pula dengan rukun Iman dan rukun Islam.

11. Kembali dipertegas kesimpulan sebelumnya, bahwa kesempurnaan rukun Iman dan Islam kita, haruslah berpedoman kepada Al Qur’an, baik itu yang tersurat maupun yang tersirat.

12. Bila kita gabungkan keseluruhan nilai dari Qs. Al Mudatsir (nomor surat dan jumlah ayatnya) yaitu : 7, 4, 5 dan 6, berjumlah 22. Surat ke 22 adalah Al Hajj (rukun Islam ke 5) sebuah isyarat tentang kelengkapan pencapaian ke 5 rukun Islam.

13. Kata Hajj, terdiri dari huruf Ha (ح)= 6 (rukun Iman), dan Jim (ج) = 5 (rukun Islam). Adalah sebuah kewajiban bagi seorang mukmin, bahwa pencapaian rukun Hajj, haruslah diiringi pula dengan kualitas pemahaman dan implementasi dari rukun Iman dan rukun Islam secara utuh. Dengan berpedoman pada Al Qur’an tentunya. Sehingga bukan sekedar pelaksanaan ritual seremonial belaka. Bukankah setelah surat 22 (Al Hajj) adalah 23 (Al Mu’minuun)?. Sudahkan kriteria Al Mu’minuun benar-benar diperoleh setelah kita melaksanakan ritual haji.

Rukun Iman, Rukun Islam dan Sistematika Al Qur’an (Mushaf Ustmani Format 18 Baris) :

Di atas telah dipaparkan bagaimana hubungan antara rukun Iman dan Islam dengan Al Qur’an format 18 baris. Yaitu juz 1 terdiri dari 15 halaman (halaman nomor 2 s.d. 16) dan juz 30 (juz ama) terdiri dari 21 halaman (halaman nomor 465 s.d. 485). Lantas bagaimana dengan jumlah halaman dari 28 juz diantara juz 1 dan 30 (juz 2 s.d. 29)?. Berikut penjelasan sistematikanya :

Diatas sudah di uraikan bagaimana jalinan pada rukun Iman serta Islam dengan Al Qur’an format 18 baris. Yakni juz 1 terbagi dalam 15 halaman (halaman nomer 2 s. d. 16) serta juz 30 (juz ama) terbagi dalam 21 halaman (halaman nomer 465 s. d. 485). Lalu bagaimana dengan jumlah halaman dari 28 juz di antara juz 1 serta 30 (juz 2 s. d. 29)?. Tersebut penjelasan systematikanya :

1. Juz 1 = 15 halaman, nilai 1 ditambahkan dengan 15, atau 1 + 15 = 16 
2. Juz 30 = 21 halaman, nilai 30 ditambahkan dengan 21, atau 30 + 21 = 51 
3. Lantas nilai 16 serta 51 dijumlahkan, atau 16 + 51 = 67 
4. Nilai 67 disubstitusikan ke nomer surat Al Qur’an yakni Qs. Al Mulk dengan jumlah ayat 30. 
5. Nilai 67 kembali dijumlahkan dengan 30, hingga didapat nilai, 67 + 30 = 97 
6. Hasil akhir ini (97), dijumlahkan ke-2 variabelnya, yakni : 9 + 7 = 16 
7. Nyatanya nilai 16 ini yaitu adalah jumlah halaman dari semasing juz dari juz 2 s. d. juz 29 (28 juz). 

8. 97 yaitu Al Qadr (Malam yang Mulia), apabila hal semacam ini dihubungkan dengan ritual Tadarus dibulan Ramadhan, di mana ada malam Lailatul Qadr di dalamnya, terang sekali tampak disini keterikatan pada sistem pencapaian Lailatul Qadr dengan mentadaburi Al Qur’an, dari juz 1 s. d. 30. Dengan kata lain, konteks pemahaman mengenai Al Qur’an dengan cara utuh (terdapat di dalamnya mengenai pemahaman rukun serta Islam), nyatanya terkait dengan pencapaian nilai Lailatul Qadr (tambah baik dari 1. 000 bln.). 

9. Ditambah lagi apabila dihubungkan juga kalau bln. Ramadhan yaitu bln. ke 9 serta nyatanya Qs. 9 yaitu At Taubah. Terang kalau Ramadhan yaitu bln. taubah, bln. pembersihan hati. Bagaimana mungkin saja pencapaian Lailatul Qadr dapat dicapai tanpa ada didahului dengan taubat serta pembersihan hati? 

10. Bentuk skemanya yaitu :


Dengan pemaknaan seperti di atas, mari ditelaah kembali Qs. 67 (Al Mulk) 30 Ayat. Bila dijabarkan lebih lanjut, variable pada Qs. Al Mulk menjadi : 6, 7, 3 dan 0, menjadi 6, 7 dan 3. Ke 3 nilai ini dijumlah : 6 + 7 + 3 = 16, atau sama dengan jumlah masing-masing juz. Sehingga masing-masing dari 16 halaman tersebut dimaknakan lebih lanjut, dengan merujuk pada sistematika yang terkait dengan Ka’bah :

  • Nilai 6 terkait dengan 6 sisi Ka’bah (halaman 1 s.d. 6 diartikan sebagai HALAMAN KA’BAH)
  • Nilai 7 terkait dengan jumlah titik sujud (disini dikaitkan dengan rukun ritual shalat yaitu sujud), yaitu : Kepala, Telapak Tangan (kanan dan kiri), Lutut (Kanan dan Kiri), Telapak Kaki (Kanan dan Kiri). Sehingga halaman 7 s.d. 13 (7 halaman) diartikan halaman TITIK SUJUD.
  • Nilai 3 terkait dengan 3 elemen yang terkait dengan Ka’bah. Yaikni : (1) Pintu Ka’bah, (1) Hajarul Aswad dan (1) Tanah Haram tempat berdirinya Ka’bah itu sendiri.
  • Atau dapat diartikan, halaman 14 adalah HALAMAN PINTU KA’BAH
  • Halaman 15 adalah HALAMAN HAJARUL ASWAD dan
  • Halaman adalah HALAMAN TANAH HARAM / DASAR

Sekianlah satu systematika yang dirujuk serta dituntun sendiri oleh nilai-nilai numerik Al Qur’an. Kita cuma disuruh untuk berpikir memakai akalnya untuk memerhatikan keterikatan pada ayat kauniyah (dalam soal ini Ka’bah) serta ayat kauliyah (Al Qur’an). Hingga dari hasil systematika itu, insya Allah bakal jadi satu system pemetaan alam atau “blue print” alam semesta (terutama mengenai manusia), di mana dari hasil pemetaan itu bakal jadi satu system baca Al Qur’an yang terpola (Pola Baca Al Qur’an).

Kebutuhan di balik pengaturan system pola baca ini, terkecuali untuk penambahan kwalitas diri dalam rencana tingkatkan kwalitas beribadah, juga dalam rencana memperoleh faedah praktis sesuai sama maksud pengaturan pola baca itu. Umpamanya, untuk kembalikan manfaat anatomis yang dirasa terganggu (Al Qur’an sebagai Asy Syifa/Obat) atau untuk jadi jalan keluar atas beragam problema yang dihadapi. Hasil dari praktik membaca dengan pola baca spesifik, bakal terpancarlah gelombang getar daya Al Qur’an yang setelah itu bakal beresonansi dengan gelombang getar yang ada pada alam semesta termasuk juga diri manusia tersebut, hingga berlangsung pengaturan lagi atau pelurusan kembali jika berlangsung ketidak selarasan.


MUKJIZAT SYAHADAT

Sesudah paparan numerik diatas, lalu bagaimana konektifitas keseluruhnya paparan itu dengan mukjizat syahadat?

Mari kembali kita cermati ke 6 rukun iman :


 (1) Iman pada Allah, (2) Iman pada Malaikat, (3) Iman pada beberapa Nabi, (4) Iman pada Kitab. (5) Iman pada takdir baik serta jelek (6) Iman pada Hari Akhir. Dari ke 6 rukun itu, ada 5 rukun yang ada dalam “wilayah ghaib” yakni : Allah (Maha Ghaib), Malaikat, Nabi (telah meninggal dunia semua), Takdir serta Hari Akhir. Cuma ada satu yg tidak ada dalam lokasi ghaib yakni rukun ke 4 (iman pada kitab), yang semuanya telah disempurnakan pada kitab ke 4 (Al Qur’an). Lantaran s/d sekarang ini, Al Qur’an begitu terang keberadaanya, dapat di baca, dipelajari, dipahami kapanpun serta dimana saja. Berarti, di sini tampak terang satu pesan, kalau untuk betul-betul mengerti ke 5 rukun yang lain, Allah sudah sediakan Al Qur’an sebagai pedomannya.

Setelah itu mari kita pelajari 5 Rukun Islam :

(1) Syahadat, (2) Shalat, (3) Zakat, (4) Puasa, (5) Haji. Seperti sudah diterangkan diatas, kalau Al Qur’an yaitu dasar hidup untuk manusia. Terutama tentang, proses ritual 4 rukun Islam : Shalat, Zakat, Puasa serta Haji, yang semuanya terang perintah serta tata langkahnya di Al Qur’an. Walau demikian, “anehnya”, kenapa membaca, pelajari serta mengerti Al Qur’an tak termasuk juga dalam rukun Islam?. Walau sebenarnya di situlah kunci pemahaman atas rukun-rukun itu?. Ada maksud apakah di balik ini semuanya?.

Ternyata… seperti uraian rukun Iman diatas, di mana keutamaan Al Quran tampak terang disana, pada rukun Islam juga berlangsung hal yang sama. Yakni pada rukun pertamanya : Syahadat. Yaa… pada syahadat lah ada satu pesan tersirat yang teramat begitu utama. Yakni pesan untuk membaca, pelajari serta mengerti Al Qur’an. Syahadat tidaklah sebatas perkataan kesaksian yang cuma disampaikan dengan cara normalitas saja. Walau demikian, mesti diiringi juga dengan aksi kongkrit yakni membaca, pelajari serta mengerti Al Qur’an.

Karena…. bagaimana mungkin saja kita bersaksi kalau tidak ada tuhan terkecuali Allah, bila firmanNya saja tidak sering atau bahkan juga tak pernah dipelajari serta dipahami. Serta bagaimana mungkin saja kita bersaksi kalau Muhammad saw yaitu sebagai utusan pembawa risalah Allah, bila risalah yang beliau berikan, tak dipelajari serta dipahami. Tidakkah cuma beberapa orang non muslim lah yang terasa tak perlu untuk membaca serta pelajari Al Qur’an?. Hingga saat ia terhidayahi untuk masuk Islam jadi diwajibkanlah baginya untuk bersyahadat. Dikaitkan dengan pemaknaan Syahadat serta Al Qur’an, jadi disitu pulalah kewajibannya untuk selekasnya mulai pelajari Al Qur’an sebagai kitab dasar hidupnya sebagai muslim. Lalu bagaimana dengan beberapa muslimin serta muslimat yang telah terlahir dengan ke Islamannya? Sesaat ritual pelajari Al Qur’an nya masihlah minim atau bahkan juga tak pernah sekalipun? Sejauh manakah nilai serta kwalitas Syahadatnya di mata Allah?

Rasulullah juga berpesan kalau Shalat yaitu sebagai tiang agama, serta untuk yang meninggalkannya bermakna sama juga dengan meruntuhkan agama. Apabila dikaji lebih dalam, seperti bakal membangun satu tiang, semakin menjulang tinggi tiangnya pasti makin diperlukan pondasi yang kuat. Berarti, apabila Shalat diperumpamakan sebagai tiang, apakah pondasinya? Simpel saja, lihatlah rukun Islam sebelumnya shalat, yaa.. nyatanya syahadatlah pondasinya, pengetahuan Al Qur’an lah pondasinya. Insya Allah, makin baik pemahaman kita bakal Al Qur’an jadi bakal makin baik juga kwalitas Shalat kita. Termasuk juga, kwalitas zakat, puasa serta haji kita.

Nah, dari paparan diatas, dari point 1 s. d. 4, terang sekali bukan?, kalau yang disebut mukjizat syahadat di sini yaitu mukjizat Al Qur’an. Berhubung Al Qur’an di turunkan untuk manusia serta lantaran manusia adalah sisi dari alam semesta yang didapatkan amanah untuk memeliharanya (manusia sebagai khalifah fil ardh), sangat layak manusia tersebut yang perlu dengan cara intens pelajari, mengerti serta membacakan Al Qur’an (sebagai buku dasar dalam melakukan emban amanah sebagai khalifah itu). Selanjutnya, dari beragam pendekatan itu diatas semua bakal bermuara pada satu maksud yang paling utama, yakni untuk lebih mendekatkan diri (taqarrub) pada Allah swt.

Sekianlah sedikit uraian kami mengenai Mukjizat Syahadat Melalui Kajian Numerik Al-Qur'an. Mari kita tingkatkan nilai syahadat kita dengan meng iqra’, pelajari, mengerti serta mengamalkan Al Qur’an. sumber: bejar numerik al-Qur'an

0 komentar:

Post a Comment

Popular Posts