Seandainya Al- Qur'an Dapat Berbicara Kepada Kita - Daqa Seroja

Seandainya Al- Qur'an Dapat Berbicara

Kalau saja Al Qur’an dapat berbicara seperti manusia, “MUNGKIN” ia bakal berkata : 

“Wahai beberapa pencintaku, beberapa pengagum pengetahuan yang senantiasa pelajari saya, membacaku, buka lembaran untuk lembaranku sehari-harinya.. jangan sampai pernah berhenti pelajariku.., ketahui aku.., dan mengerti aku…. ” 

“Janganlah pernah terasa senang atas nilai kebenaran yang kalian dapatkan lewat saya sekarang ini,.. lantaran sebenarnya nilai kebenaran yang kalian dapatkan, belumlah meraih kebenaran yang Hakiki, jauh penggemarku…… masihlah begitu jauh. Bukankan kebenaran yang Hakiki cuma punya ALLAH semata? ” 

“Mohon maaf beberapa penggemarku, saya cuma dapat mengarahkan serta mendekatkan kalian pada kebenaran yang Hakiki, namun saya tidak dapat bikin kalian untuk mencapainya dengan cara utuh” 

“Walaupun semua pohon-pohon di muka bumi ini di menjadikan pena serta tujuh lautan jadikan sebagai tinta, bahkan juga apabila ditambahkan sejumlah itu pula… Tidak bakal penah habis hikmah pengetahuan serta khazanah yang terdapat di dalamku tuk kalian capai kepahamannya..”

“Sekali lagi penggemarku, kebenaran Hakiki hanya punya ALLAH serta tidak satupun makhluk yang dapat mencapainya dengan cara utuh. Karenanya jangan sampai kalian terasa paling pandai.. paling benar… gampang menyalahkan pendapat orang lain, dengan dalil ayat-ayat yang terdapat di dalamku… janganlah sekali-kali pencintaku… Lantaran apabila itu terjadi… jadi kalian bakal terpecah iris jadi banyak kelompok serta kalian bakal sama-sama bermusuhan.. sama-sama bertikai bahkan juga sama-sama menghabisi keduanya. Tidakkah itu yang berlangsung sekarang ini..? ”

“Wahai penggemarku… keberadaanku, tidaklah untuk jadi mudarat untuk alam semesta ini. Sadarilah wahai penggemarku, ketidaksamaan yang berlangsung di antara kalian dalam mengertiku yaitu adalah bukti riil.. begitu minimnya.kurang tersedianya kekuatan kalian tuk mengertiku. Apabila untuk mengertiku saja kalian tidak dapat, bagaimana mungkin saja kalian bakal dapat meraih semua ke “Maha” an NYA??? ”

“Keberadaanku yaitu sebagai penebar keselamatan di alam semesta ini.. pembawa rahmat untuk sekalian alam.. bukanlah penebar ketidak nyamanan.. bukanlah pencipta kegelisahan.. bukanlah pemecah iris diantara kalian.. bukaan.. sekalipun bukaan..!! Bagaimana mungkin saja tuk hal yang begitu simpel ini saja, kalian tidak dapat mengertinya..? Apakah yang ada dipikiran kalian.. hingga meskipun kalian telah pelajariku, namun… kalian seringkali melakukan tindakan bertentangan dengan peruntukkanku di alam semesta ini..?”

Kalau saja Al Qur’an dapat berbicara seperti manusia, “MUNGKIN” ia bakal berkata :

“Wahai manusia yang teramat begitu kucintai.. sesungguhnya.. cukup kalian ikuti saja bimbinganku, arahanku, untuk mengetahui diri kalian sendiri lebih mendalam, mengenai kehadiran kalian, mengenai peruntukan kalian di ciptakan.. dan mengenai beban amanah apa yang kalian emban serta harus lakukan, sebelumnya hayat selesai meninggalkan dunia ini. Apabila kalian isqamah ikuti bimbinganku tuk mengerti serta mengetahui mengenai diri kalian sendiri.. pasti nantinya kalian semakin lebih mengerti serta mengetahui bakal Tuhan kalian yang sesungguhnya.. ALLAH SWT, Pencipta kalian semua”

“Ooooh… penggemarku … kalian sangat muluk … sangatlah terlalu muluk apabila kalian sudah terasa memperoleh kebenaran yang Hakiki, serta kalian mengambil keputusan untuk berhenti pelajariku.. mengertiku…”

“Jangan kerjakan itu penggemarku, janganlah kerjakan… tekuni saya selalu, ketahui saya terus… mengerti saya terus…. amalkanlah semua yang sudah kalian mengerti.. Lantaran apabila kalian berhenti pelajariku serta sudah terasa memperoleh kebenaran yang Hakiki, saya cemas kalian bakal jadi takabur.. arogan.. sombong. Saya begitu meyakini, seyakin-yakinnya tersebut kesesatan yang teramat besar!!! seperti syaitan yang sombong serta terkutuk selama-lamanya serta bakal jadi penghuni kekal di neraka jahanam”

Kalau saja Al Qur’an dapat berbicara seperti manusia, “MUNGKIN” ia bakal berkata :

“Wahai manusia.. syukurlah atas ke Islaman kalian yang telah terbawa mulai sejak lahir.. lantaran jika kalian istiqamah dalam menggerakkan shalat.. sekurang-kurangnya sejumlah 9 kali dalam satu hari di beberapa saat shalat, kalian bersyahadat.. menyebutkan kesaksian kalau tidak ada tuhan terkecuali ALLAH serta Rasulullah Muhammad saw sebagai utusan yang membawa risalah yang terdapat di diriku.. ”

“Namun.. kenyataannya bagaimana dengan bentuk riil atas kesaksian kalian itu..? apakah kesaksian kalian telah terwujud dalam sikap.. untuk membacaku serta pelajari saya sebagai himpunan firmanNYA yang dapat menghantarkan kalian pada panduan yang benar dalam meraih ridhaNYA? Apakah kesaksian kalian atas Rasulullah Muhammad saw, telah terwujud dalam sikap.. untuk membacaku serta pelajari saya sebagai risalah yang beliau berikan pada kalian supaya terselamatkan didunia ataupun akhirat? Yaa.. dengan pelajari saya.. mengerti saya.. yaitu satu langkah yang pas dalam melakukan perbaikan kwalitas ke Islaman serta syahadat kalian semua”

Kalau saja Al Qur’an dapat berbicara seperti manusia, “MUNGKIN” ia bakal berkata : 

“Wahai manusia.. dalam satu hari.. sekurang-kurangnya 17 kali dalam shalat kalian membaca sisi dariku yakni surat “Al Faatihah” serta berdoa memohon ditunjuki pada jalan yang lurus. Bukankah kalian sadar, kalau jalan yang lurus sesungguhnya telah ALLAH siapkan lewat saya.. himpunan dari semua panduanNYA, yang tak ada kesangsian di dalamnya untuk beberapa orang yang bertaqwa..?? Lalu kenapa engkau masihlah saja belum tergerak atau malas mencari panduan yang sudah disiapkan didalam diriku? ” Yaa.. memanglah satu diantara namaku yaitu Al Hudaa, panduan atas semua problematika yang ada di alam semesta ini bahkan juga tuk pencapaian kebaikan akhirat meskipun ada didalam diriku, serta itu semua DIA siapkan serta peruntukkan untuk kalian semuanya. Sadarilah itu.. Wujudkanlah keinginan serta doa kalian dalam shalat itu dengan membaca saya, pelajari saya, mengerti saya, untuk mencapai panduan jalan yang lurus atas segalanya serta permasalahan yang kalian hadapi”

Kalau saja Al Qur’an dapat berbicara seperti manusia, “MUNGKIN” ia bakal berkata : 

“Wahai… beberapa manusia yang belum nampak kecintaannya padaku… kalau kalian Islam.. kenapa kalian belum juga menyentuh diriku.. buka lembaran untuk lembaran diriku.. bencikah kalian pada ku..? Tak rindukah kalian kepadaku, sang kitab termulia yang pernah ada di selama jaman?

“Berapa waktu kah dalam sehari-harinya kalian teringat bakal saya.. terbersit mengenai keutamaanku.. sempatkah kalian luangkan sedikit saat saja tuk menyentuhku.. melihatku.. membacaku? Ketahuilah.. saya begitu merindukan kalian.. teramat begitu rindu.. ”

“Ketika saya bakal di turunkan kemuka bumi ini, begitu ALLAH sudah menyiapkan semua keadaan yang paling baik untukku.. IA pilihkan saat paling baik di antara semua saat yang pernah ada tuk menurunkanku.. Lailatul Qadr.. ”

“IA pilihkan panglima malaikat paling tinggi tuk membawa saya ke permukaan bumi ini.. Jibril yang perkasa.. ”

“IA pilihkan sosok manusia paling baik selama hidup tuk terima hadirnya ku.. baginda Rasulullah Muhammad saw.. yang dengan semua pengorbanan harta, jiwa serta raga dan saat dalam kehidupannya, ia persembahkan untuk sampainya saya pada kalian semuanya.. begitu halnya beberapa sahabatnya yang demikian setia, mulia serta keseluruhan dalam memperjuangkan keberadaanku supaya hingga pada masa kalian waktu ini”

“Entah telah berapakah banyak nyawa beberapa pejuang Islam yang telah mengorbankan serta merelakan jiwanya untuk memperjuangkan syiar bakal keberadaanku, hingga sampailah saya pada saat kalian sekarang ini.. ”

“Dengan semua keutamaan pristiwa di turunkannya saya ke muka bumi ini serta perjalanan histori yang mengagumkan itu.. Lalu kenapa dengan gampang serta ringannya kalian tidak hiraukan saya..? melihat mata sebelah padaku..? ” Kalau kalian tau, bagaimana nantinya saya akan menerangi serta melapangkan makam kalian.. membela kalian di hari perhitungan nantinya.. pasti kalian bakal menghampiriku saat untuk saat.. membawaku kemana kalian pergi.. Tapiiii.. bagaimana saya bakal dapat lakukan semuanya.. tanpa ada timbulnya kecintaan kalian pada ku..?? ”

Kalau saja Al Qur’an dapat berbicara seperti manusia, “MUNGKIN” ia bakal berkata :

“Wahai manusia.. teramat begitu banyak sesungguhnya yang menginginkan ku berikan pada kalian semuanya, kalau saya diberikan kekuatan bicara seperti kalian.. yang bisa didengar dengan terang ditelinga.. pastinya saya tidak bakal pernah jemu tuk memberikan nasehat.. mengingatkan.. serta menuntun kalian semuanya, selama seharian tanpa ada henti.. untuk menuju pada keridhaanNYA”

“Aaah sudahlah… kenyataannya.. s/d waktu ini…. saya tak diberikan kekuatan untuk berbicara layaknya seperti kalian.. yang setiap saat dapat didengarkan ditelinga manusia… ini hanya satu peluang.. seandainya…. kalau saja saya Al Qur’an dapat berbicara seperti kalian wahai manusia…”

sumber: belajarnumerikalquran

Terima kasih sudah berkunjung ke blog kami, jangan lupu baca artikel menarik laiinya di sini. Semoga bermanfaat.

Latar Belakang Intelektual Lukman Abdul Qahar Sumabrata | Pencetus Kajian FSQ

Belajar Numerik Al-Qur'an - Dalam pembahasan kali ini admin akan menulis mengenai pembahasan tentang Latar Belakang Intelektual Lukman Abdul Qahar Sumabrata yang merupakan pencetus Metode Pengkajian Al-Qur'an Dengan Format dan Struktur Al-Qur'an. Mari kita simak artikelnya dibawah ini. 

Latar Belakang Intelektual Lukman Abdul Qahar Sumabrata

Anak dari pasangan Husein Soemabrata dan Hasanah Sastra Wijaya ini memiliki nama lengkap Lukman Abdul Qahar Sumabrata. Dia dilahirkan sekitar tahun 1939 di Cianjur.Ayahnya seorang stap Pegawai Negeri Sipil di Departemen Pertahanan Pangan Nasional atau yang dikenal Departemen Agraria di daerah Ciamis, Jawa Barat. Lukman merupakan anak kedua dari tujuh orang bersaudara. Dia menghabiskan masa remajanya di Garut dan mengabdikan masa tuanya untuk mempelajari al-Qur’an dan Syi’ar Islam di Jakarta. Ia dilahirkan dari keluarga yang menanamkan kebiasaan mengaji sejak kecil. Sejak kecil, Ia diajarkan bahwa al-Qur'an adalah rahmat bagi orang yang beriman dan sumber ilmu pengetahuan.

Selama hidupnya, Lukman banyak berkecimpung dalam dunia spiritual. Bahkan dalam bukunya tersebut dikatakan bahwa ia telah melalui pergulatan intelektual dan spiritual selama 20 tahun. Dia telah menemukan makna-makna baru yang konsisten dan unik dalam susunan al-Qur’an yang berupa unsur, unsur simbolik seperti huruf, juz, surat, maupun ayat. Selama proses pencarian itu, beliau pernah melakukan pembacaan beberapa amalan-amalan tertentu. Dari sini, muncul kesadaran dan kegelisahan dalam jiwanya, salah satunya terkait cara membaca suatu ayat yang diulang-ulang. Dalam dunia tulis-menulis, karya-kary Lukman Abdul Qahar Sumabrata terhitung tidak banyak. Di antara karya-karyanya adalah buku Pengantar Fenomenologi al-Qur’an Dimensi Keilmuan di Balik Mushaf Usmani; Menelusuri Jejak Kaki Ibrahim.

Sumber : Nunung Lasmana dan Ahmad Suhendra, Tafsir Fenomenologi Simboli al-Qurʼan

Terima kasih sudah berkunjung di blog kami, jangan lupa baca artikel lainnya di fsqdaqaseroja, yang pasti materi tentang numerik al-Qur'an sudah tersaji. Ikuti kami untuk mengikuti tentang kajian al-Qur'an yang mengkaji melalui format dan strukturnya. Semoga bermanfaat.

Kisah Kelahiran Rasulullah saw yang Menggemparkan

Belajar Al-Qur'an - Dua belas Rabiul awal tahun Gajah, merupakan saat paling berharga di sepanjang zaman peradaban manusia, termasuk bagi alam semesta raya ini, menyambut kehadirannya dengan berbagai reaksi alam yang menakjubkan. Sebuah kelahiran yang menggemparkan dunia, tak satu insanpun dimuka bumi ini yang terlahir kedunia ini dengan sebuah proses yang seluarbiasa kelahiran sang rasulullah. Salah satu pristiwa yang juga terjadi semasa kelahiran rasulullah adalah dengan pristiwa penyerangan pasukan Abhrahah ke Mekkah dalam rangka untuk menghancurkan ka’bah. Namun berkat kuasa-Nya, bangunan tersebut tetap terpelihara, agar manusia kelak di zaman-zaman selanjutnya dapat memahami dan mengerti maksud yang terkandung dan terselubung di balik makna ka’bah.


Nabi Muhammad saw

Di Al Qur’an, peristiwa penyerangan ka’bah ini diabadikan dalam Qs. Ke 105 (Al Fiil) yang berarti Gajah. Hal ini juga berkaitan erat dengan pengistilahan tahun kelahiran rasulullah adalah pada tahun gajah. Sedangkan dalam perhitungan masehi tahun gajah adalah setara dengan tahun 571. Dalam uraian dibawah ini akan diperlihatkan sebuah korelasi yang saling berkait diantara ke 2 nilai ini, yang pada akhirnya mengindikasikan tentang risalah (Al Qur’an) yang kelak akan disampaikan kepada Muhammad saw.

Nilai 105 bila ditambahkan dengan nilai 571 akan diperoleh nilai : 105 + 571 = 676. Sebuah angka yang unik, karena merupakan angka yang saling bercermin, 67 dan 76. Di Al Qur’an nilai 7 dihubungkan dengan jumlah ayat dari surat pertama di Al Qur’an yaitu Qs. 1 (Al Faatihah), sedangkan nilai 6 dihubungkan pula dengan jumlah ayat dari Qs. terakhir di Al Qur’an yaitu Qs. 114 (An Naas).

Jelas memperlihatkan sebuah korelasi yang erat dengan Al Qur’an bukan?
Dalam perhitungan lain, bila ke 2 nilai ini (67 dan 76) dihubungkan dengan Qs. 47 (Muhammad) dengan jumlah ayatnya 38, maka akan terlihat seperti skema dibawah ini :

Muhamad simbol qur'an

Kembali terlihat dengan penggabungan awal dari 2 variasi nilai yang terkait dengan tahun kelahiran rasulullah yaitu nilai 105 (Al Fiil/Gajah = tahun Gajah) dengan 571 (tahun masehi dari tahun gajah), dan menghubungkannya pula dengan Qs. Muhammad sangat jelas kaitannya dengan Al Qur’an, risalah yang akan diterimanya 40 tahun kemudian.

Al FATIHAH (Pembuka) dan RASULULLOH SAW

Qs. 1 Al Faatihah bermakna pembukaan, ternyata berhubungan erat dengan pristiwa kelahiran sang rasul (sang pembuka/pembaharu) peradaban manusia. Dalam penjabaran disini akan diperlihatkan hubungan antara variabel nilai yang terkait dengan pristiwa kelahiran sang rasul yaitu:

A. Tanggal Kelahiran : 12
B. Bulan Kelahiran : Bulan ke 3 (Rabiul Awal)
C. Tahun Kelahiran : Tahun Gajah (Qs. 105 Al Fiil / Gajah), tahun 571 (perhitungan masehi)

Al Fatihah dan Rasulullah saw

Sebuah kesempurnaan tiada tara. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, terkecuali hanya satu yang Maha Cerdas dan Maha Cepat Perhitungannya yang mampu melakukannya. Lantas apakah kondisi ini tak juga dapat “memelekkan” mata kita untuk mengakui tentang kedahsyatan numerik Al Qur’an, yang jelas-jelas merupakan sistematika yang sempurna dari Maha Karya dari “Tangan-tanganNya”?.
Nilai 571 dalam Juz ‘Amma.

Juz ‘amma dikenal sebagai Al Qur’an kecil, pada masa awal pembelajaran Iqra’ Al Qur’an selalu dimulai dengan pelajaran pembacaan di juz 30 ini. Seharusnya jumlah surat yang terkandung di juz ini adalah 37 surat, yaitu Qs. ke 78 (An Naba) sampai dengan Qs. 114. Namun pada kenyataannya yang terjadi acap kali Qs. 1 (Al Faatihah) dimasukkan kedalam juz ini. Kembali harus dikritisi keadaan ini, ada pesan apakah di balik ini semua? Memang begitulah manusia, harus selalu berupaya untuk mengkritisi dan bertanya serta memiliki rasa penasaran yang tinggi agar selalu memperoleh progres ilmu yang terus-menerus meningkat.

Dengan penambahan 1 surat yaitu Qs. Al Faatihah ke dalam juz ini, maka jumlah surat yang ada menjadi 38 surat. Sudah mulai terlihat sebuah keterkaitan dengan Qs. 47 (Muhammad) karena jumlah ayat dari Qs. 47 adalah 38 ayat. Selanjutnya bila ke 38 surat ini dijumlahkan keseluruhan ayatnya, maka akan diperoleh nilai sebagai berikut :

- Qs 78 (An Naba) sampai dengan Qs. 114 (An Naas) : 564 ayat
- Penambahahan satu surat yaitu Qs. 1 Al Faatihah      :     7 ayat
- Sehingga jumlah ayatnya menjadi 564 + 7 ayat          : 571 ayat

Semakin jelas korelasinya antara pembahasan disini dengan kelahiran sang rasul. Beliau adalah layaknya manusia biasa yang tentunya juga pernah mengalami masa kecil, lantas mengapa juz ‘ama + Qs. 1 Al Faatihah ini kerap diberik istilah Al Qur’an kecil? Subhanallah, sebuah “kebetulan” yang memang benar-benar terencana.

Nilai 571 dalam Ar Rahman

Tidak ada surat pun yang berjudul “Allah” sebuah bukti bahwa Allah di sini tak kan pernah terjangkau oleh alam fikir manusia. Perlu di informasikan, bahwa dalam kajian numerik disini tidak akan pernah mengurai tentang lafadz Allah (ﷲ), karena dalam mengkaji Al Qur’an pun harus ada “kode etiknya” sebagaimana perintah Allah yang kurang lebih berbunyi “jangan pernah usik-usik tentang DzatKu, pelajari saja tentang segala ciptaanKu”, sebuah pesan yang dapat dimaknai bahwa setiap pembahasan tentang diriNya, sejauh apapun akal ini mampu menggambarkanNya atau mendefinisikanNya tetap saja belum dapat mewakili tentang diriNya yang sebenarnya. Sehingga dengan pemahaman dan keyakinan ini, dalam kajian numerik ini tak akan pernah dijumpai penguraian lafadz Allah (ﷲ). Sementara beberapa pengkaji Al Qur’an lainnya (yang tentu memiliki argumentasi tersendiri) menguraikan lafadz Allah (ﷲ) menjadi 4 abjad yaitu Alif, lam, lam dan ha). Perbedaan ini tak perlu diperdebatkan karena masing-masing metode tentu mempunyai landasan teori dan argumentasinya. Yang jelas, Al Qur’an sebagai sumber ilmu, sangat tak terbatas khasanah ilmunya, dengan menyalahkan metode pengkajian lain berarti mempersempit khasanah ilmu Al Qur’an itu sendiri.

Diantara 114 surat, Allah mewakili diriNya (menjadi judul surat) dengan salah satu asmanya (Asma ul Husna pertama) yaitu Ar Rahman , yang terletak pada posisi Qs. ke 55. Ada keunikan dalam surat ini, yang bila diuraikan akan diperoleh 3 variasi huruf yaitu :

-> Alif Lam Ra : اﻠﺮ
-> Haa Mim : ﺤﻣ
-> Nun :

Di dalam Al Qur’an ada 5 Surat yang di awali dengan Alif Lam Ra : اﻠﺮ yaitu :

-> 10 Yuunus
-> 11 Huud
-> 12 Yuusuf
-> 14 Ibrahim
-> 15 Al Hijr

Kemudian ada 7 surat yang di awali oleh Haa Mim ( ﺤﻣ ) yaitu :

-> 40 Al Mu’min
-> 41 Hamin As Sajdah
-> 42 Asy Syuraa
-> 43 Az Zukhruf
-> 44 Ad Dukhaan
-> 45 Al Jaatsiyah
-> 46 Al Ahqaaf

Dan di akhiri dengan satu surat yang di awali dengan huruf Nun (ﻥ ), yaitu Qs. ke 68 (Al Qalam).

Dengan pengelompokkan ini maka diperoleh variabel pengelompokan dengan formasi 5-7-1. Mengingat korelasi nilai 571 sebagai tahun kelahiran rasulullah dan memperhatikan makna Ar Rahman yaitu Yang Maha Pengasih, serta dihubungkan pula dengan 31 ayat yang di ulang-ulang di Qs. 55 (Ar Rahman) yaitu :

 “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Lafadz pada ayat ini diulang-ulang sebanyak 31 kali, pada ayat ke : 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77

Jelas terlihat di sini, bahwa dari 31 kali pertanyaan Allah pada surat ini adalah mempertanyakan “rasa syukur” seluruh manusia tentang nikmat diturunkanNya rasulullah dan Al Qur’an kemuka bumi ini, sehingga kurang lebih pertanyaan-pertanyaan tersebut bermakna :

Nikmat Allah mana lagikah yang engkau dustakan (setelah Aku turunkan kemuka bumi ini seorang yang bernama Muhammad saw?)”

“Nikmat Allah mana lagikah yang engkau dustakan (setelah Aku sampaikan Firman-firmanKu kepadanya?)”

“Nikmat Allah mana lagikah yang engkau dustakan (setelah Al Qur’an sampai kepada mu, wahai manusia?)”

Dan seterusnya.. dengan berbagai kenikmatan yang tak terhingga atas kehadirannya sang Rasululllah ke muka bumi ini. Sehingga sudah sangat selayaknya beliau memiliki keutamaan sebagai rahmatan lil’alamin. Dan Kami tidak Mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (Qs. 21 Al Anbiyaa’ 107)

Dengan pengulangan sebanyak 31 ayat di dalam Qs. 55 (Ar Rahman) ini, maka tentu ada 47 ayat lagi yang bukan merupakan ayat pengulangan. Karena Qs. 55 (Ar Rahman) seluruhnya berjumlah 78 ayat. Nilai 47, jelas berkaitan dengan surat Muhammad, sehingga 31 ayat pengulangan pertanyaan Allah pada surat ini jelas-jelas tertuju kepada nikmat dihadirkannya rasulullah kemuka bumi ini, sekaligus nikmat Al Qur’an yang beliau terima sebagai mukjizat terbesar sepanjang masa. Lantas dalih apa lagikah yang dapat diutarakan untuk menampik nikmat dan kebenaran Al Qur’an? Berkenankah kita menjadi orang-orang yang tak mau mensyukuri kehadiran Muhammad saw dan diturunkanya Al Qur’an? Terlebih lagi, dengan kelancangan sebagian umat yang mengakui adanya nabi ke 26 setelah rasulullah, sebuah pengingkaran yang nyata terhadap nikmat luar biasa yang telah Allah anugerahkan (Muhammad saw dan Al Qur’an) kepada manusia.

Selain itu, formasi pembagian 31 ayat dan 47 ayat di surat Ar Rahman merupakan sebuah bukti tentang tidak mungkinnya ada seseorang yang dapat menandingi kesempurnaan rasulullah, jangankan menandingi, untuk mendapatkan kesetaraan dengan beliaupun sangat tak mungkin terjadi. Pemahaman ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

Di dalam surat Ar Rahman terdapat 31 kali pengulangan ayat. Nilai 31 ini bila disetarakan sebagai jumlah ayat sebuah surat, maka juga merupakan jumlah ayat dari Qs. 76 (Al Insan/Manusia). Sedangkan bila nilai 31 dikonversikan menjadi nomor surat, adalah Qs. 31 (Luqman) sebuah simbol kebijaksanaan, walaupun ia bukan seorang nabi, namun karena kebijaksanaan dan ketinggian akhlaknya merupakan sosok yang patut disuritauladani. Ini sebuah indikasi bahwa sesempurna-sempurnanya manusia (Qs. 76, Al Insan), ia hanya akan mampu memperoleh tingkatan menjadi seseorang yang arif dan bijaksana (Qs. 31, Luqman), dan tetap tak mungkin bisa dikategorikan sebagai nabi, apalagi setara dengan rasulullah.

Sedangkan 47 ayat selebihnya, yang bukan merupakan ayat-ayat pengulangan, mengandung pesan bahwa sosok sempurna yang harus dijadikan sebagai parameter dalam proses pencapaian sebuah kearifan dan kebijaksanaan, adalah rasulullah sendiri, Muhammad saw (Qs. 47), termasuk dengan seluruh nilai-nilai qur’ani yang dimilikinya. Nilai 47 hanya dapat dikonversikan sebagai nomor surat dan tidak bisa menjadi jumlah ayat, karena dari 114 surat di Al Qur’an tak ada satupun yang berjumlah 47 ayat. Ini kembali merupakan sebuah bukti bahwa tak ada satu insan pun dimuka bumi ini yang dapat menyamai apalagi melebihi seluruh kriteria yang dimilikinya. Atau dengan kata lain, tak akan mungkin ada satu manusia pun setelah beliau yang mampu menggantikan posisi kerasulannya, mustahil ada nabi setelah dirinya.

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (Qs. 33 Al Ahzaab 21)

Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qs. 33 Al Ahzaab 40)

Doa Nabi Ibrahim as

Dalam ayat ke 127, 128 dan 129 di surat ke 2 Al Baqarah, dikisahkan ketika nabi Ibrahim as berdo’a dan meminta kepada Allah swt untuk mengutus seorang rasul bagi anak cucunya kelak, yang membawa kitab dan al hikmah. Kala itu nabi Ibrahim as dan anaknya Isma’l as berdoa setelah selesai melaksanakan pembangunan baitullah (ka’bah).

Ayat-ayat tersebut adalah :

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Memang pada kenyatannya do’a tersebut dikabulkan oleh Allah. Terbukti dengan lahir rasulullah di Mekkah di kota tempat didirikannya ka’bah oleh leluhurnya, Ibrahim as. Seluruh ketentuan Allah dalam merencanakan pengutusan para nabiNya, memang telah diatur jauh-jauh sebelumnya, di kitabullah, Al Qur’an di Lauhi Mahuz, Allah adalah Maha Berencana. Namun dengan diabadikannya kisah pada ayat tersebut di Al Qur’an merupakan sebuah bukti bahwa Allah sangat menghargai ikhtiar dan do’a yang bersungguh-sungguh, apalagi dilakukan oleh seorang nabi seperti Ibrahim as.

Sementara orang mungkin berpendapat, apabila memang turunnya nabi Muhammad saw adalah “berkat” do’anya nabi Ibrahim, lantas apakah kalau tidak dido’akan beliau maka Muhammad saw tidak akan hadir dimuka bumi ini? Tidaklah demikian, bagaimana kalau pertanyaan itu dikembalikan lagi, bukankah nabi Ibrahim as melakukan do’a tersebut pun tak lepas dari kehendak Allah juga? Tak akan selesai permasalahan ini apabila terus dipertanyakan dan diperlebar, karena bila sudah menyentuh wilayah kehendak Allah, kemampuan akal manusia tak akan mampu mencernanya, salah-salah bisa terjebak pada asumsi-asumsi manusiawi yang pada akhirnya akan menjerumuskan manusia kepada pemahaman-pemahaman yang “menyeleweng” dari ketentuanNya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang telah diciptakan oleh Allah, dan manfaat apa yang bisa diraih dari hikmah tersebut serta bagaimana menindaklanjutinya menjadi sebuah sikap yang bermanfaat pula.

Salah satu hikmah yang dapat diambil dari peristiwa doanya nabi Ibrahim di atas akan diuraikan lebih lanjut. Di Al Qur’an surat Ibrahim tepat berada pada urutan surat ke 14. Dengan sebuah metode perhitungan yaitu sistem deret hitung, maka dari nilai 14 akan diperoleh nilai 105. Yaitu sebagai hasil dari penambahan nilai-nilai mulai dari 1 sampai dengan 14, yaitu : 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 10 + 11 + 12 + 13 + 14 = 105. Sebagaimana sudah diketahui 105 adalah nomor surat dari Qs. Al Fiil (Gajah), surat yang menggambarkan tentang sebuah pristiwa penyerangan ka’bah oleh pasukan gajah (pasukan Abrahah), dimana pada tahun itu pula sang rasulullah Muhammad saw dilahirkan. Sebuah konektifitas yang jelas antara doa nabi Ibrahim as (yang meminta untuk diutusnya seorang rasul bagi anak cucunya) dengan kelahiran Muhammad saw.

Pada uraian-uraian sebelumnya juga sudah disampaikan tentang hubungan nabi Ibrahim as dengan ka’bah, yaitu nabi Ibrahim (nabi ke 6) dan ka’bah yang memiliki 6 sisi. Sebuah “kebetulan” yang direncanakan Allah. Selanjutnya bila nilai 6 kembali di deret hitungkan maka akan diperoleh nilai :1+2+3+4+5+6= 21 (Qs. 21, Al Anbiyaa’/Para Nabi). Terbukti melalui 2 keturunannya yaitu nabi Isma’l as dan Ishaq as, 17 nabi kembali diangkat oleh Allah swt. Sehingga ada 19 nabi (setelah nabi Ibrahim as) di utus ke muka bumi ini. Sudah dijelaskan pula bahwa nilai 19 ini terkait pula dengan jumlah rusuk bangunan ka’bah. Bila nilai deret hitung 6 yaitu 21 ditambahkan dengan 19, maka akan didapat nilai 40. Lantas apakah ini memang sebuah “kebetulan lagi” karena ternyata Muhammad saw diangkat menjadi rasulullah pada usia 40. Bukankah dari hasil perhitungan di atas sangat jelas keterkaitan antara do’a nabi Ibrahim as dengan kelahiran Muhammad saw? Bahkan sampai usia pengangkatan kerasulannya pun “dijawab dan dikabulkan” Allah dengan begitu sistematisnya?

Kisah singkat perjalanan Rasulullah

Sebenarnya, uraian ini telah ada pada paparan sebelumnya, namun ada baiknya diulang kembali. Mengingat materi ini masih sangat erat kaitannya dengan pembuktian tentang keabsahan Muhammad saw dan Al Qur’an.
Bila diperhatikan mulai surat ke 105 (Al Fiil / Gajah / tahun kelahiran rasulullah) sampai dengan surat ke 113, jelas terlihat sebuah keterkaitan yang dapat menggambarkan tentang sejarah singkat nabi Muhammad saw. Lengkapnya surat-surat tersebut adalah :

Muhammad adalah Al-quran

  • Rasulullah dilahirkan pada tahun Gajah (Qs. 105, Al Fiil). Dan beliau berasal dari kaum Quraisy (Qs. 106, Al Quraisy). Sebelum diangkat menjadi rasul beliau dikenal sebagai orang yang sangat dipercaya (Al Amin) dan berguna bagi masyarakatnya (Qs. 107, Al Ma’un). Kemudian Muhammad mendapatkan wahyu, sebuah pemberian yang tak ternilai (Qs. 108 Al Kautsar). Wahyu tersebut disampaikan kepada masyarakat Mekkah, tetapi sebagian besar mereka menolak ajakan Rasulullah untuk beriman kepada Allah dan memilih untuk tetap kafir (Qs. 109, Al Kafirun). Penolakan mereka kemudian berkembang menjadi kebencian dan keinginan memerangi Rasulullah. Tetapi Allah memberikan pertolonganNya (Qs. 110, An Nashr). Dalam salah satu peperangan Abu Lahab (Qs. 111, Al Lahab), salah satu tokoh yang sangat keras perlawanannya terhadap Rasulullah, tewas. Hampir semua peperangan berhasil dimenangkan oleh Rasulullah dan kaum muslimin, sehingga Islam terus berkibar ke berbagai negeri. Beramai-ramai orang menyatakan syahadat, pengakuan akan keesaan Allah (Qs. 112, Al Ikhlash). Maka terbitlah fajar baru peradaban umat manusia (Qs. 113, Al Falaq).
  • Mungkin sementara pembaca akan bertanya, mengapa harus surat ke 105 menuju surat ke 113? Dimulai dari nilai 105 jelas karena diambil dari surat Al Fiil (Gajah) yang merupakan indikasi tentang tahun kelahiran Muhammad saw. Bila nilai 105 ini ditambahkan dengan nilai pada jumlah ayatnya yaitu 5, maka akan diperoleh nilai 105 + 5 = 110. Selanjutnya nilai 110 (An Nashr) kembali dijumlahkan dengan jumlah ayatnya maka akan diperoleh nilai 110 + 3 = 113. Sampai disini perhitungan tidak dilanjukan lagi karena apabila nilai 113 kembali ditambahkan dengan jumlah ayatnya maka akan diperoleh nilai 118, yang merupakan nilai di atas 114 atau dengan kata lain telah di luar konteks nomor surat di Al Qur’an. Akan tetapi apabila nilai 118 ini dikonversikan sebagai sebagai jumlah ayat, maka ia adalah merupakan jumlah ayat dari surat ke 23 (Al Mu’minun).
  • Dengan perolehan nilai 23 (Al Mu’minun) ini mengindikasikan, bahwa setelah terbitnya fajar baru bagi peradaban umat manusia, maka tujuan akhir dari pada diturunkannya rasulullah kemuka bumi ini adalah dalam rangka memperbaiki akhlak manusia, membentuk insan-insan muslim yang mukminin.
sumber : Syaiful Husein

Demikian pembahasan artikel mengenai Kisah Kelahiran Rasulullah saw yang Menggemparkan, semoga bisa bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung ke blog kami dan jangan lupa membaca artikel yang lainnya.

KA'BAH Sebagai Simbol Al-Qur'an

Assalamu’alaikuum Wr.Wb

Mari Kita bersama-sama belajar mengenai kajian Numerik Al-Qur'an. Dalam postingan kali ini admin akan membahas mengenai materi tentang KA'BAH Sebagai Simbol Al-Qur'an. Sudah kita semua ketahui bahwa Umat Islam sholat menghadap ke Ka’bah. Tetapi apakah arti dari Ka’bah ? Apakah arti dari sujudnya manusia ke arah batu ?. Padahal manusia diharuskan hanya menyembah Allah semata. Lantas dimana kesinkronan dua hal ini ?. Mari kita bahas hal ini dengan seksama dibawah ini.

mekkah ka'bah.jpg

Kalau kita perhatikan, bahwa Ka’bah adalah bangunan yang terbuat dari batu. Kemudian kita perhatikan pula surat batu dalam Al Qur’an, maka barulah dapat dimengerti arti dari sujudnya kaum Muslimin menghadap Ka’bah.Surat ‘Batu’ adalah surat yang ke 15, ‘Al Hijr’, jumlah ayatnya adalah 99. Kedua angka tersebut bila dijumlahkan:

15 + 99 = 114 

Angka 114 menunjukkan bahwa kaum Muslim diperintahkan untuk sujud kepada Al Qur’an, yang di dalamnya dinyatakan perintah dan larangan Allah. Sujud adalah bermakna kepatuhan tanpa syarat. Bidang Ka’abah ada 6 dan rusuknya ada 19. Bila angka 6 dikalikan dengan 19 juga akan menghasilkan angka 114.

6 x 19 = 114

Ka’bah sebagai simbol dari Al Qur’an, sesuai firmanNYA di surat 3, ‘Ali Imran’, ayat ke 96:

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”.

Pengertian ‘petunjuk’ pada ayat ini tentu mengacu kepada Al Qur’an, sebagaimana pada ayat-ayat lain yang menyatakannya demikian. Karena rumah, bila diartikan bangunan pisik, tentu tidak bisa dijadikan sebagai petunjuk.

6 + 19 = 25

Nabi ke 25 adalah Nabi Muhammad SAW yang membawa risalah Al Qur’an tersebut. Dan Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang meneruskan ritual haji dan mendapat perintah dari Allah SWT untuk mengembalikan Ka’bah sebagai pusat peribadatan, meneruskan millah Ibrahim, setelah sebelumnya sempat berpindah ke Masjidil Aqsha.

Silahkan dilihat gambar di atas Foto Masjidil Haram tampak dari atas ( dengan 7 menara ) dan terlihat sekali Masjidil Haram seperti Huruf Mim ( Hijaiyah ), huruf mim adalah huruf ke 24, jika kita kolerasikan ke dalam surat maka surat ke 24 adalah surat An Nuur ( cahaya ) / siroj… Jelas terlihat cahaya yang pasti timbul di Masjidil Haram ( siroj ) jika kita melihat dari luar Bumi ( seperti yang di ceritakan seorang astronot, sang astronot non Muslim dan akhirnya masuk Islam karena dari luar Bumi sang astronot melihat cahaya di sekitar Masjidil Haram ).

sumber : majelis Darul Qohar

Demikian pembahasan mengenai KA'BAH Sebagai Simbol Al-Qur'an, semoga bisa bermanfaat dan semoga yang belum ke mekkah semoga dapat kesana. Amiin.

Terima kasih sudah berkunjung di blog Belajar Al-Qur'an Format 18 Baris, jangan lupa baca artikel yang menarik lainnya dan jika ada komentar silahkan ditulis dengan baik dan bijak.

Wassalamu’alaikuum Wr.Wb.

Tipe Karakter Juz 5 Pada Al-Qur'an (Feminim dan Suka Mengungkit)

FsqDaqaSeroja - Assalamu'alaikum sobat kaum muslimin semua, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Kami dari admin blog ini akan membagikan ulasan mengenai materi format dan struktur al-Quran format 18 baris. Melanjutkan postingan kami mengenai Tipe karakter Juz 4 yang sudah kami bagikan, sekarang admin ingin membagikan kelanjutanya yakni artikel tentang Tipe Karakter Juz 5 Pada Al-Qur'an (Feminim dan Suka Mengungkit). Mari kita simak dan baca keseluruhannya di bawah ini.

Tipe Karakter Juz 5 Pada Al-Qur'an (Feminim dan Suka Mengungkit)

Berikut Tipe Karakter Juz 5 Pada Al-Qur'an (Feminim dan Suka Mengungkit) :

PROFIL JUZ 5

Juz ini hanya berisi satu surat yang tidak penuh, yaitu surat ke-4 (an-Nisaa) sebanyak 124 ayat. Surat an-Nisaa berisi 176 ayat, dan 124 ayat yang berada ditengah (24-147) menjadi milik juz 5. Juz 5 memiliki profil yang sama dengan juz 2. Ia berada ditengah-tengah surat panjang. Dua surat panjang dalam al-Quran, yang terbagi ke dalam 3 juz, atau dimiliki oleh 3 juz ialah surat ke-1 (al-Baqarah) dan surat ke-4 (an-Nisaa). Karena posisinya yang berada di tengah-tengah surat, maka juz ini tidak diawali oleh awal surat, dan juga tidak berakhir pada akhir surat. Banyak juz yang tidak berawal dari awal surat, dan tidak berakhir pada akhir surat, sebagaimana juz 2 dan juz 5, tetapi di tengah tengahnya pada umumnya memiliki surat utuh. Di sinilah letak kekhususan pembagian juz dalam al-Quran. Konsistensi pembagian juz hanya dapat dilihat pada pengelompokkan jumlah ayat pada tanda ’ain. Artinya, pengelompokkan ayat ke dalam tanda ’Ain pada setiap juz tetap konsisten, dengan jumlah minimal 14, dan maksimal 22 (selain juz 30). Namun demikian, tidak ada juz yang jumlah tanda ’ainnya 15. Juz 5 memiliki 17 tanda ’ain,

KARAKTER JUZ 5

Huruf cetak-tebal pada ayat awal juz ini ( Waalmuhsanaatu ). Terhadap waktu, seorang juz 5 dapat bersifat disiplin, tetapi sekaligus juga pelupa. Terhadap modal atau uang, ia dapat mengaturnya dengan baik, tetapi ia sering begitu ”perhitungan” dalam mengalokasikan uang, sepertinya menjadi seorang yang agak ”pelit”. Seorang juz 5 pada umumnya sangat labil, ia mudah sekali emosi, tetapi sekaligus emosinya juga cepat reda. Pada saat marah, ia dapat saja ”mencak-mencak” dengan mengeluarkan berbagai perkataan, tetapi kemudian ia kembali stabil dan lupa terhadap apa yang ia marahkan. Ia tidak memiliki rasa dendam, atau memendam perasaan.

Kemarahan baginya hanya sekedar pelepas beban psikologis. Bagaikan membuang kotoran dari tubuh, setelah kotoran itu hilang maka ia lupa pada kotoran itu. Seorang juz 5 juga memiliki kepedulian pada lingkungan. Ia begitu ”usil” terhadap penampilan orang lain. Ia begitu jeli dalam mengamati kerapihan orang lain, bahkan sampai pada persoalan yang kecil dan sepele. Dia seorang pribadi wanita sejati. Jika juz 4 berisi surat an-Nisaa bercampur dengan surat Ali Imran, dan dalam juz 6 surat an-Nisaa bergabung dengan surat al-Maidah, maka juz 5 hanya berisi surat an-Nisaa murni. Tetapi karena kemurniannya itu, ia bukanlah tipe seorang ibu rumah tangga yang mampu memberikan hidangan secara ”perfect” terhadap suami. Berbeda dengan juz 6 yang memiliki ”daya-tampil” dan kemampuan menghidangkan (al-Maidah) tinggi, juz 5 justru tidak memiliki alternatif lain, selain hanya sebagai pendamping lelaki. Ia hanya mampu mencerna dan mengolah dengan baik, tetapi menghidangkannya secara sempurna masih tetap kalah dengan juz 6. 

Ini artinya, bahwa ada kekurangan laten dalam diri seorang juz 5, dalam posisinya sebagai wanita atau ibu. Ia memiliki kekuatan pada bagian tangan, tetapi sekaligus apa yang ia kerjakan (tangan) biasanya atau bahkan sering tidak pernah sempurna. Pada saat ia berada pada posisi ”senang”, ia sangat cekatan untuk melakukan berbagai pekerjaan (kegiatan). Tetapi begitu terganggu kondisi hatinya, maka seketika itu ia tak mampu mengerjakan apa-apa. Sebagai seorang wanita, maka ia memiliki perasaan yang halus dan romantik. Sikap kemanjaan dan ketergantungan terkadang muncul. Dan apabila seorang juz 5 laki-laki, ia pun memiliki penampilan yang cenderung halus, bagaikan seorang wanita. Dari segi intelektual, karena ia memiliki kepedulian sosial (lingkungan) tinggi, maka ia dapat berpikir masalah global (mondial). Tetapi ia hanyalah seorang generalis, yang hanya tahu sedikit tentang berbagai masalah. Memang dari segi pemikiran, ia selalu berobsesi menjangkau banyak hal. Dan ia juga berambisi untuk menangani berbagai persoalan. Tetapi, dari segi praktis (operasional) ia lemah. Ia sering memiliki gagasan kreatif, tetapi sekaligus ia tak mampu merealisasikan gagasan kreatifnya itu dalam kegiatan operasional. 

Seorang juz 5 pada umumnya memiliki banyak rencana, tetapi banyak rencana yang akhirnya kandas dan tak mampu direalisasikan. Ia juga bersikap normatif terhadap orang lain. Di samping itu, ia juga sering memperbesar masalah yang sebenarnya kecil. Obsesinya untuk memperbaiki kondisi lingkungan, atau kerabat terdekat begitu besar. Atau sebaliknya, ia sering menguasai lingkungan atau kerabat (kawan-kawan) terdekat.

KELEMAHAN DAN KELEBIHAN

Kelemahan dan kelebihan seorang juz 5 terletak pada bagian tangan dan atau syaraf. Tetapi kelemahan pada bagian tangan pada umumnya tidak dalam bentuk fisis, melainkan pada aspek kemampuan menangani masalah ataupun pekerjaan yang benar-benar lemah. Ketika bagian tangan seorang juz 5 menjadi kelebihan, maka berarti ia dapat menangani berbagai macam persoalan. Dan ia menghendaki segala sesuatu yang berada di sekelilingnya tampak rapih. Tetapi ketika tangan sedang menjadi kelemahan, maka berarti ia sedang tidak mampu melakukan apapun. Dan hal ini terjadi ketika ia sedang mengalami gangguan pada titik 9 (hati).

Kelemahan yang secara fisis bersifat laten biasanya terdapat pada bagian syaraf atau persendian. Atau juga pada bagian lengan tangan kanan. Kelemahan lain, dan ini kekecualian, terdapat pada bagian pernapasan atau tenggorokan. Banyak orang juz 5 yang gampang terkena penyakit asma. Sistem 11 pada juz 5 sama dengan yang ada pada juz 14 dan 23. Sebab juz-juz tersebut merupakan juz pemampatan (saudara) terdekat (mirip) dari juz 5. Ini berarti bahwa, ketika seorang juz 5 mampu memanaj perasaan dan kondisi hatinya secara setimbang, maka kelemahan laten yang ia miliki tidak akan menjadi sakit yang terlalu parah.

PESAN KEILMUAN

Pesan (keilmuan) yang terkandung di dalam juz 5 mengenai tugas seorang wanita sebagai ibu. Setelah bertemu dengan Ali Imran dalam kehidupan rumah tangganya (di juz 4), seorang an-Nisaa (wanita) akan mengandung selama 9 bulan, melahirkan, memberi makan dan nafas kehidupan melalui hubungan tali-rasa dengan seorang anak. Setelah lahir hingga usia tertentu ibulah yang mempunyai banyak andil dalam mendidik dan mengasuh anak. Sehubungan dengan perkembangan psikologi, dalam juz ini mengisyaratkan bahwa seorang anak pada usia 5 tahun, akan lebih dekat dengan ibu. Juz 5 merupakan sandi tentang kehormatan (keistimewaan) bagi kaum hawa, ia mendapat sebuah juz khusus yang pada surat lelaki tidak ada. Namun, ada konsekuensi tersendiri bagi seorang wanita juz 5, apabila ditinggal suami (Imran), seorang an-Nisaa harus dapat berperan ganda, sebagai seorang ibu sekaligus bertindak sebagai ayah bagi anak-anaknya.

SUMBER : Darul Qohar

Demikian ulasan dari kami tentang Tipe Karakter Juz 5 Pada Al-Qur'an (Feminim dan Suka Mengungkit), semoga dapat menjadikan manfaat bagi admin dan saudara semua. Terima kasih sudah mengikuti kami dan membaca artikel kami. Somoga beberkah, Amiin.

Mukjizat Syahadat Melalui Kajian Numerik Al-Qur'an

Fsqdaqaseroja - Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Semoga kita semua selalu mendapat Rahmat Alloh SWT. Amin. Tak henti-hentinya ucapkan syukur kepada-Nya atas apa yang telah diberikan kepada kita semua. Salah satunya adalah menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. 

Admin dalam kesempatan kali ini akan membagikan ulasan mengenai Mukjizat Syahadat Melalui Kajian Numerik Al-Qur'an. Semoga dalam kajian ini kita semua mendapat pesan-pesan yang selama ini masih dalam benak pikiran kita semua.

Mukjizat Dua Kalimat Syahadat

Syahadat Yaitu adalah satu keharusan untuk semua muslim untuk mengerti apa-apa yang terdapat dalam Rukun Iman serta Rukun Islam. Alhamdulillahi rabbil ’aalamiin, sudah begitu banyak beberapa ulama serta cendikiawan muslim yang mengemukakan mengenai beragam keutamaan dari sebagian rukun Islam. Umpamanya, keutamaan shalat, zakat, puasa serta hajji. Tetapi, mungkin saja masihlah sedikit yang mengulas atau mengemukakan mengenai keutamaan syahadat. Serta sebagai bentuk kepedulian serta sharing sesama muslim, kami dari pengkaji Al Qur’an lewat pendekatan numerik, juga menginginkan ikut berperan serta untuk mengemukakan sebagian pemahaman kami yang sedikit, dengan harapan kalau nyatanya begitu pendekatan numerik sebagai padanan pendekatan verbal yang telah lebih mengkhalayak, bisa memberi peran serta faedah untuk perubahan khasanah pengetahuan di kelompok ummat Islam.


1. RUKUN IMAN, ISLAM, DAN KA'BAH

Sebelumnya mengulas mengenai judul diatas, sebaiknya kita pelajari lebih dahulu ke 6 rukun Iman serta 5 rukun Islam. Titik tolaknya yaitu lewat penelaahan dari satu diantara ayat kauniyah terutama untuk ummat Islam yaitu Ka’bah. Telah keduanya sama di ketahui, bangunan itu didirikan oleh seseorang Ayah Tauhid, nabi Ibrahim as. Dengan cara nomer urut kenabian dari 25 nabi yang harus diimani, beliau yaitu nabi ke 6. Nyatanya nilai 6 ini, dengan cara segera mempunyai satu korelasi yang pasti dengan bangunan Ka’bah tersebut yang berupa kubus dengan jumlah 6 segi. Nilai inipun dengan cara segera tersambungsi dengan jumlah rukun Iman. Setelah itu, apabila kita kaitkan dengan systematika nomer urut surat, surat Ibrahim terdapat pada surat ke 14. Ke dua nilai pada 14 apabila dijumlahkan (1 + 4) yaitu 5. Tidakkah nilai inipun dengan cara segera tersambungsi dengan jumlah rukun Islam?.

2. MAKNA SIMBOLIK KA'BAH

Mari kita simak bersama sama tentang amati bangunan dari Ka'bah,

Contoh Bangunan Ka'bah


  • Satu-satunya ritual yang berhubungan/berhadapan secara langsung dengan Ka’bah adalah Thawaf (berputar mengelilingi Ka’bah).
  • Ada 4 sisi yang di kelilingi, yaitu sisi ke 1,2,3,4. Bila dijumlahkan adalah 1+2+3+4=10.
  • Berarti sisi bagian bawah Ka’bah adalah sisi ke 5 dan sisi bagian atas adalah sisi ke 6.
  • Coba kita urut secara terbalik, dari sisi atas (6), sisi bawah (5) lalu sisi yang di kelilingi/thawaf (10)
  • Substitusi nilai 6 kedalam abjad hijaiyah adalah abjad Ha (ح).
  • Substitusi nilai 5 kedalam abjad hijaiyah adalah abjad Jim (ج).
  • Substitusi nilai 10 kedalam abjad hijaiyah adalah abjad Ra (ر).
  • Ke 3 hasil subsitusi di atas digabungkan : Ha-Jim-Ra: atau dapat membentuk kata (حجر) : HIJR (batu). Bukankah Ka’bah bangunan terbuat dari batu?
  • Surat Hijr (Al Hijr) di Al Qur’an adalah surat ke 15, dengan jumlah 99 ayat (nilai 99 : Asma Ul Husna : simbolisasi dari sebuah kesempurnaan). Nilai 15 + 99 = 114 (jumlah surat dalam Al Qur’an).
  • Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kesempurnaan Iman dan Islam, haruslah berpedoman pada Al Qur’an (sebagai huda linaas, petunjuk bagi sekalian manusia)

Lihat Surat Al-Baqarah 150, Semakin jelaslah pesan yang diberikan.

“Dan dari mana pun engkau (Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu, agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, agar Aku Sempurnakan nikmat-Ku kepadamu, dan agar kamu mendapat petunjuk.”


Pastinya arti ayat diatas tidaklah berarti harfiah, lantaran bagaimana mungkin saja serta sangat sangat simpel apabila arti “dari mana saja engkau keluar” serta “di mana saja engkau ada hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram” dimaknai serta dikerjakan dengan cara fisik sesuai sama harfiahnya. Dapat dipikirkan apa yang bakal berlangsung apabila semuanya ummat muslim di semua dunia lakukan hal semacam ini seperti arti harfiah nya (semasing menghadapkan berwajah ke Masjidil Haram) dimana serta kapanpun! Begitu mustahil dikerjakan. Walau demikian, jika ayat itu dimaknai lebih mendalam, di mana simbolisasi Masjidil Haram (di mana ada Ka’bah di sana), serta dari uraian numerik diatas, diterangkan kalau Ka’bah yaitu satu simbolisasi dari Al Qur’an, jadi begitu terang maknanya, kalau dari tempat mana saja kita keluar serta dimana saja kita ada selalulah berdasar pada Al Qur’an.

3. RUKUN IMAN. RUKUN ISLAM, DAN AL-QUR'AN

1. Nilai 6 pada rukun Iman bila dideret hitungkan : 1+2+3+4+5+6=21
2. Nilai 5 pada rukun Iman bila dideret hitungkan : 1+2+3+4+5=15
3. Nilai 6 – 5 = 1
4. Nilai 6 x 5 = 30
5. Perhatikan Al Qur’an anda (dalam hal ini Al Qur’an Mushaf Ustmani Format 18 Baris), Nilai 1 dan 15, ternyata terkoneksi dengan Juz 1 berjumlah 15 Halaman sedangkan nilai 30 dan 21, terkoneksi dengan juz 30 berjumlah 21 halaman.
6. Juz 1 (juz awal/pembuka) dan juz 30 (juz akhir/penutup) menggambarkan bahwa Al Qur’an dari awal sampai dengan akhirnya adalah merupakan pedoman jelas untuk kita memahami tentang rukun Iman dan Islam.

7. Di antara juz 1 dan 30 terdapat 28 juz (juz 2 s.d. juz 29). Bila dikaitkan dengan Ka’bah dengan ritual Thawaf nya yaitu : 7 kali mengelilingi 4 sisi Ka’bah, berarti terdapat nilai 7 x 4 = 28 (jumlah juz di antara juz 1 dan 30).

8. Hal ini menggambarkan bahwa kandungan Al Qur’an adalah demikian dalam dan tingginya, perlu pembelajaran yang intens dan berulang-ulang (layaknya ritual Thawaf). Ritual Thawaf pun menggambarkan bahwa penelaahan kedalaman dan ketinggian Al Qur’an perlu dilihat, dikaji, dari berbagai sisi pandang. Termasuk memperhatikan dan memahami seluruh elemen yang terkandung di dalamnya : baik itu redaksi verbalnya, nomor suratnya, jumlah ayatnya, juz nya, simbol-simbol hurufnya, tanda ruku’ (‘ain) nya, halamannya, barisnya, dst.
9. Nilai numerik dari Ka’bah (ﻛﻌﺒﺔ ) : Kaf (ك)=22, ‘Ain (ع)=18, Ba (ب) =2, Ta Marbutah (ة) =32, berjumlah 74. Qs. 74 adalah Al Mudatsir (Yang Berkemul) dengan jumlah ayat 56.

10. Jelas sekali makna sistematika angkanya : Bahwa Ka’bah (simbol dari Al Qur’an) memiliki kandungan ilmu yang terkemul (tersembunyi/tersirat) di dalamnya. Nilai 56 (jumlah ayatnya) pun ternyata terkait pula dengan rukun Iman dan rukun Islam.

11. Kembali dipertegas kesimpulan sebelumnya, bahwa kesempurnaan rukun Iman dan Islam kita, haruslah berpedoman kepada Al Qur’an, baik itu yang tersurat maupun yang tersirat.

12. Bila kita gabungkan keseluruhan nilai dari Qs. Al Mudatsir (nomor surat dan jumlah ayatnya) yaitu : 7, 4, 5 dan 6, berjumlah 22. Surat ke 22 adalah Al Hajj (rukun Islam ke 5) sebuah isyarat tentang kelengkapan pencapaian ke 5 rukun Islam.

13. Kata Hajj, terdiri dari huruf Ha (ح)= 6 (rukun Iman), dan Jim (ج) = 5 (rukun Islam). Adalah sebuah kewajiban bagi seorang mukmin, bahwa pencapaian rukun Hajj, haruslah diiringi pula dengan kualitas pemahaman dan implementasi dari rukun Iman dan rukun Islam secara utuh. Dengan berpedoman pada Al Qur’an tentunya. Sehingga bukan sekedar pelaksanaan ritual seremonial belaka. Bukankah setelah surat 22 (Al Hajj) adalah 23 (Al Mu’minuun)?. Sudahkan kriteria Al Mu’minuun benar-benar diperoleh setelah kita melaksanakan ritual haji.

Rukun Iman, Rukun Islam dan Sistematika Al Qur’an (Mushaf Ustmani Format 18 Baris) :

Di atas telah dipaparkan bagaimana hubungan antara rukun Iman dan Islam dengan Al Qur’an format 18 baris. Yaitu juz 1 terdiri dari 15 halaman (halaman nomor 2 s.d. 16) dan juz 30 (juz ama) terdiri dari 21 halaman (halaman nomor 465 s.d. 485). Lantas bagaimana dengan jumlah halaman dari 28 juz diantara juz 1 dan 30 (juz 2 s.d. 29)?. Berikut penjelasan sistematikanya :

Diatas sudah di uraikan bagaimana jalinan pada rukun Iman serta Islam dengan Al Qur’an format 18 baris. Yakni juz 1 terbagi dalam 15 halaman (halaman nomer 2 s. d. 16) serta juz 30 (juz ama) terbagi dalam 21 halaman (halaman nomer 465 s. d. 485). Lalu bagaimana dengan jumlah halaman dari 28 juz di antara juz 1 serta 30 (juz 2 s. d. 29)?. Tersebut penjelasan systematikanya :

1. Juz 1 = 15 halaman, nilai 1 ditambahkan dengan 15, atau 1 + 15 = 16 
2. Juz 30 = 21 halaman, nilai 30 ditambahkan dengan 21, atau 30 + 21 = 51 
3. Lantas nilai 16 serta 51 dijumlahkan, atau 16 + 51 = 67 
4. Nilai 67 disubstitusikan ke nomer surat Al Qur’an yakni Qs. Al Mulk dengan jumlah ayat 30. 
5. Nilai 67 kembali dijumlahkan dengan 30, hingga didapat nilai, 67 + 30 = 97 
6. Hasil akhir ini (97), dijumlahkan ke-2 variabelnya, yakni : 9 + 7 = 16 
7. Nyatanya nilai 16 ini yaitu adalah jumlah halaman dari semasing juz dari juz 2 s. d. juz 29 (28 juz). 

8. 97 yaitu Al Qadr (Malam yang Mulia), apabila hal semacam ini dihubungkan dengan ritual Tadarus dibulan Ramadhan, di mana ada malam Lailatul Qadr di dalamnya, terang sekali tampak disini keterikatan pada sistem pencapaian Lailatul Qadr dengan mentadaburi Al Qur’an, dari juz 1 s. d. 30. Dengan kata lain, konteks pemahaman mengenai Al Qur’an dengan cara utuh (terdapat di dalamnya mengenai pemahaman rukun serta Islam), nyatanya terkait dengan pencapaian nilai Lailatul Qadr (tambah baik dari 1. 000 bln.). 

9. Ditambah lagi apabila dihubungkan juga kalau bln. Ramadhan yaitu bln. ke 9 serta nyatanya Qs. 9 yaitu At Taubah. Terang kalau Ramadhan yaitu bln. taubah, bln. pembersihan hati. Bagaimana mungkin saja pencapaian Lailatul Qadr dapat dicapai tanpa ada didahului dengan taubat serta pembersihan hati? 

10. Bentuk skemanya yaitu :


Dengan pemaknaan seperti di atas, mari ditelaah kembali Qs. 67 (Al Mulk) 30 Ayat. Bila dijabarkan lebih lanjut, variable pada Qs. Al Mulk menjadi : 6, 7, 3 dan 0, menjadi 6, 7 dan 3. Ke 3 nilai ini dijumlah : 6 + 7 + 3 = 16, atau sama dengan jumlah masing-masing juz. Sehingga masing-masing dari 16 halaman tersebut dimaknakan lebih lanjut, dengan merujuk pada sistematika yang terkait dengan Ka’bah :

  • Nilai 6 terkait dengan 6 sisi Ka’bah (halaman 1 s.d. 6 diartikan sebagai HALAMAN KA’BAH)
  • Nilai 7 terkait dengan jumlah titik sujud (disini dikaitkan dengan rukun ritual shalat yaitu sujud), yaitu : Kepala, Telapak Tangan (kanan dan kiri), Lutut (Kanan dan Kiri), Telapak Kaki (Kanan dan Kiri). Sehingga halaman 7 s.d. 13 (7 halaman) diartikan halaman TITIK SUJUD.
  • Nilai 3 terkait dengan 3 elemen yang terkait dengan Ka’bah. Yaikni : (1) Pintu Ka’bah, (1) Hajarul Aswad dan (1) Tanah Haram tempat berdirinya Ka’bah itu sendiri.
  • Atau dapat diartikan, halaman 14 adalah HALAMAN PINTU KA’BAH
  • Halaman 15 adalah HALAMAN HAJARUL ASWAD dan
  • Halaman adalah HALAMAN TANAH HARAM / DASAR

Sekianlah satu systematika yang dirujuk serta dituntun sendiri oleh nilai-nilai numerik Al Qur’an. Kita cuma disuruh untuk berpikir memakai akalnya untuk memerhatikan keterikatan pada ayat kauniyah (dalam soal ini Ka’bah) serta ayat kauliyah (Al Qur’an). Hingga dari hasil systematika itu, insya Allah bakal jadi satu system pemetaan alam atau “blue print” alam semesta (terutama mengenai manusia), di mana dari hasil pemetaan itu bakal jadi satu system baca Al Qur’an yang terpola (Pola Baca Al Qur’an).

Kebutuhan di balik pengaturan system pola baca ini, terkecuali untuk penambahan kwalitas diri dalam rencana tingkatkan kwalitas beribadah, juga dalam rencana memperoleh faedah praktis sesuai sama maksud pengaturan pola baca itu. Umpamanya, untuk kembalikan manfaat anatomis yang dirasa terganggu (Al Qur’an sebagai Asy Syifa/Obat) atau untuk jadi jalan keluar atas beragam problema yang dihadapi. Hasil dari praktik membaca dengan pola baca spesifik, bakal terpancarlah gelombang getar daya Al Qur’an yang setelah itu bakal beresonansi dengan gelombang getar yang ada pada alam semesta termasuk juga diri manusia tersebut, hingga berlangsung pengaturan lagi atau pelurusan kembali jika berlangsung ketidak selarasan.


MUKJIZAT SYAHADAT

Sesudah paparan numerik diatas, lalu bagaimana konektifitas keseluruhnya paparan itu dengan mukjizat syahadat?

Mari kembali kita cermati ke 6 rukun iman :


 (1) Iman pada Allah, (2) Iman pada Malaikat, (3) Iman pada beberapa Nabi, (4) Iman pada Kitab. (5) Iman pada takdir baik serta jelek (6) Iman pada Hari Akhir. Dari ke 6 rukun itu, ada 5 rukun yang ada dalam “wilayah ghaib” yakni : Allah (Maha Ghaib), Malaikat, Nabi (telah meninggal dunia semua), Takdir serta Hari Akhir. Cuma ada satu yg tidak ada dalam lokasi ghaib yakni rukun ke 4 (iman pada kitab), yang semuanya telah disempurnakan pada kitab ke 4 (Al Qur’an). Lantaran s/d sekarang ini, Al Qur’an begitu terang keberadaanya, dapat di baca, dipelajari, dipahami kapanpun serta dimana saja. Berarti, di sini tampak terang satu pesan, kalau untuk betul-betul mengerti ke 5 rukun yang lain, Allah sudah sediakan Al Qur’an sebagai pedomannya.

Setelah itu mari kita pelajari 5 Rukun Islam :

(1) Syahadat, (2) Shalat, (3) Zakat, (4) Puasa, (5) Haji. Seperti sudah diterangkan diatas, kalau Al Qur’an yaitu dasar hidup untuk manusia. Terutama tentang, proses ritual 4 rukun Islam : Shalat, Zakat, Puasa serta Haji, yang semuanya terang perintah serta tata langkahnya di Al Qur’an. Walau demikian, “anehnya”, kenapa membaca, pelajari serta mengerti Al Qur’an tak termasuk juga dalam rukun Islam?. Walau sebenarnya di situlah kunci pemahaman atas rukun-rukun itu?. Ada maksud apakah di balik ini semuanya?.

Ternyata… seperti uraian rukun Iman diatas, di mana keutamaan Al Quran tampak terang disana, pada rukun Islam juga berlangsung hal yang sama. Yakni pada rukun pertamanya : Syahadat. Yaa… pada syahadat lah ada satu pesan tersirat yang teramat begitu utama. Yakni pesan untuk membaca, pelajari serta mengerti Al Qur’an. Syahadat tidaklah sebatas perkataan kesaksian yang cuma disampaikan dengan cara normalitas saja. Walau demikian, mesti diiringi juga dengan aksi kongkrit yakni membaca, pelajari serta mengerti Al Qur’an.

Karena…. bagaimana mungkin saja kita bersaksi kalau tidak ada tuhan terkecuali Allah, bila firmanNya saja tidak sering atau bahkan juga tak pernah dipelajari serta dipahami. Serta bagaimana mungkin saja kita bersaksi kalau Muhammad saw yaitu sebagai utusan pembawa risalah Allah, bila risalah yang beliau berikan, tak dipelajari serta dipahami. Tidakkah cuma beberapa orang non muslim lah yang terasa tak perlu untuk membaca serta pelajari Al Qur’an?. Hingga saat ia terhidayahi untuk masuk Islam jadi diwajibkanlah baginya untuk bersyahadat. Dikaitkan dengan pemaknaan Syahadat serta Al Qur’an, jadi disitu pulalah kewajibannya untuk selekasnya mulai pelajari Al Qur’an sebagai kitab dasar hidupnya sebagai muslim. Lalu bagaimana dengan beberapa muslimin serta muslimat yang telah terlahir dengan ke Islamannya? Sesaat ritual pelajari Al Qur’an nya masihlah minim atau bahkan juga tak pernah sekalipun? Sejauh manakah nilai serta kwalitas Syahadatnya di mata Allah?

Rasulullah juga berpesan kalau Shalat yaitu sebagai tiang agama, serta untuk yang meninggalkannya bermakna sama juga dengan meruntuhkan agama. Apabila dikaji lebih dalam, seperti bakal membangun satu tiang, semakin menjulang tinggi tiangnya pasti makin diperlukan pondasi yang kuat. Berarti, apabila Shalat diperumpamakan sebagai tiang, apakah pondasinya? Simpel saja, lihatlah rukun Islam sebelumnya shalat, yaa.. nyatanya syahadatlah pondasinya, pengetahuan Al Qur’an lah pondasinya. Insya Allah, makin baik pemahaman kita bakal Al Qur’an jadi bakal makin baik juga kwalitas Shalat kita. Termasuk juga, kwalitas zakat, puasa serta haji kita.

Nah, dari paparan diatas, dari point 1 s. d. 4, terang sekali bukan?, kalau yang disebut mukjizat syahadat di sini yaitu mukjizat Al Qur’an. Berhubung Al Qur’an di turunkan untuk manusia serta lantaran manusia adalah sisi dari alam semesta yang didapatkan amanah untuk memeliharanya (manusia sebagai khalifah fil ardh), sangat layak manusia tersebut yang perlu dengan cara intens pelajari, mengerti serta membacakan Al Qur’an (sebagai buku dasar dalam melakukan emban amanah sebagai khalifah itu). Selanjutnya, dari beragam pendekatan itu diatas semua bakal bermuara pada satu maksud yang paling utama, yakni untuk lebih mendekatkan diri (taqarrub) pada Allah swt.

Sekianlah sedikit uraian kami mengenai Mukjizat Syahadat Melalui Kajian Numerik Al-Qur'an. Mari kita tingkatkan nilai syahadat kita dengan meng iqra’, pelajari, mengerti serta mengamalkan Al Qur’an. sumber: bejar numerik al-Qur'an

Korelasi Bahasa Verbal Dan Numerik Al-Qur'an


Assalamu'laikum warahmatullohi wabarakatuh para sahabat setia pembaca blog kami, dalam kesempatan ini atau dalam postingan kali ini admin akan memberikan ulasan dan informasi tentang Korelasi Bahasa Verbal dan Numerik Al-Qur'an dan juga akan dibahas mengenai perbedaan dan persamaan pemahaman tentang Al-Qur'an antara paradigma verbal dengan numerik.


Seperti yang sudah dinyatakan sebelumnya, bahwa bahasa verbal dapat dengan mudah membawa kita pada persepsi kulturan yang sempit, selain dari persepsi kultural, persepsi juga lahir dari berbagai macam paradigma ilmiyah, karena dibalik sebuah paradigma tersembunyi dengan berbagai macam kepentingan. 

Dari perpedaan-perbedaan yang ada lantas berkembang sedekimian rupa, sehingga membentuk berbagai madzhab, yang semakin meneguhkan kepentingan tersebut. Tetapi bila semua persepsi verbal dikombinasikan dengan numerik sebagaimana yang dianjurkan, Insyaallah kita akan mendapatkan hasil yang berbeda, selruh nuansa baru, atau bahkan suatu pencerahan. Seperti yang diutarakan dalam QS. 5 Al Maidah ayat 16 : 

"Dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaanNya kejalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan ijinNya, dan menunjukan kejalan yang lurus".

Dan QS. 14 Ibrahim ayat 1:

"Alif Lam Ra (ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji."

Persamaan Dan Perbedaan Pemahaman Tentang Al-Qur'an Antara Paradigma Verbal Dengan Numerik


PARADIGMA
VERBALNUMERIK
SejarahWahyu Allah yang diturunkanidem
kepada Muhammad SAW
FungsiPetunjuk dan Rahmat :Idem
1. Akhlaq
2. Ilmu Pengetahuan
FormatMushaf Ustmani dengan ber-Mushaf Ustmani dengan 10
bagai variasi formatkarakter khusus (baca di
ciri-ciri Al-Qur'an 18 baris)
PendekatanTekstual dan KonstekstualTekstual dan Konstekstual,
strktural dan simbolik
Hasil yang didapatPemahaman TeoritisPemahaman Teoritis dan
manfaat praktis
Hubungan RealittasParalelIntegral,
sebagai blue print

Demikian pembahasan tentang Korelasi bahasa verbal dan numerik Al-Qur'an yang admin sampaikan. semoga bisa menambah wawasan dan menambah kecintaan terhadap Al-Qur'an. Ikuti pembahasan kami, jangan lupa baca artikel yang lainnya diblog kami. Terima kasih dan semoga bermanfaat. Amiin

Popular Posts